Computer-Automotive-Electronics (Seko Personal Blog)


Serba-Serbi Karburator Motor
October 1, 2010, 3:34 am
Filed under: Automotive | Tags: , ,

Gue pilih karburator vakum,” ungkap Dodi, sementara temannya, Irfan bersikeras menggunakan karbu manual. “Lebih enak!” kelitnya. Nah, seperti apa sih, kedua karburator itu? Apalagi sekarang sudah banyak yang mengaplikasi alat pengabut vakum sebagai peranti standar.

Keuntungannya apa? “Karburator vakum bisa menyesuaikan suplai bahan bakar dan udara dengan kebutuhan kinerja mesin,” ungkap Sutrisno dari Jawa Motor, di kawasan Paal Tujuh, Jakbar. Maksudnya, suplai bensin dan udara akan menyesuaikan dengan gerak piston alias daya sedot mesin ketika sedang bekerja.

Karburator vakum, lebih hemat bahan bakar
Membran, kerap sobek jika sudah lama

Pada karbu manual skep bergerak dengan kabel grip gas

Spuyer antara kedua jenis karburator sama saja
.

Jadi, skepnya akan bergerak naik tidak hanya mengandalkan putaran grip akselerator saja. Bisa saja putaran grip dipelintir habis, skepnya tetap akan terangkat bertahap, sesuai putaran mesinnya.

Berbeda dengan karburator manual, throttle akan terbuka sesuai putaran grip gas, jadi bahan bakar dan udara akan tersalurkan sesuai bukaan tersebut. Meski, kebutuhan dalam ruang bakar belum memerlukannya.

Itulah sebabnya karburator vakum lebih irit dibandingkan dengan karburator manual. Tetapi, semua ada kelebihan kekurangannya tentu. Urusan akselerasi, pastinya karburator manual akan lebih responsif terhadap mesin ketimbang vakum yang hanya mengandalkan isapan dari piston untuk pergerakan skepnya.

Lantas, ada lagi kelemahan karbu vakum ini, “Ini memang untuk jangka waktu cukup lama, misal 3 tahun, tetapi pasti akan terjadi,” ujar Tris, sapaan akrab Sutrisno. Apa saja kelemahan itu?

Karburator vakum ini sangat memanfaatkan kevakuman alias kekosongan udara agar bisa responsif terhadap isapan piston dari ruang bakar. Nah, hal ini berhubungan dengan membran yang ada di atas skep untuk menggerakkan skep itu sendiri.

Lantas soal jarum skep, pada karbu vakum umumnya tak perlu mengubah ketinggian jarum, karena sudah menyatu dengan selongsong skepnya. Sementara karbu manual bisa memilih ketinggian jarum skep untuk menentukan suplai bahan bakar yang diinginkan.

Tetapi, soal jetting karburator sih, sama saja. “Enggak ada bedanya, sama karburator manual,” ungkap Tris. begitu pun soal setelan anginnya, sama persis dengan karburator manual. Pembeda utama ada pada membran saja.

Karena dipakai cukup lama, lama kelamaan, membran ini akan aus, bisa saja ada bagian yang sobek, meski kecil, atau juga membrannya melebar dari ukurannya. Kalau sobek, biasanya diganti baru, misal untuk Yamaha Scorpio, harga membran ini sekitar Rp 55 ribu.

Sebagai perbandingan antara karbu vakum dan manual, Tommy Bramudia dari Ngayunspeed, di Kelapa Dua, Jakbar dicoba pada Honda Sonic 125, Kawasaki Ninja 250 dan Honda CBR 150, tarikannya lebih terasa mulai dari putaran bawah hingga atas. “Jauh perbedaannya, lebih responsif,” tuturnya.

Jadi, antara Dodi dan Irfan sebenarnya tak perlu ada permasalahan, hanya tinggal penyesuaian saja. Jika ingin berkendara ekonomis, sebaiknya pilih karburator vakum, sementara tarikan responsif dan spontan bisa menggunakan karburator manual seperti pilihan Irfan.

Sumber: Otomotifnet.com


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: