Computer-Automotive-Electronics (Seko Personal Blog)


Serba-Serbi CDI Aftermarket
July 7, 2009, 7:05 am
Filed under: Automotive | Tags:

Motormania, tentu sudah gak asing sama CDI (capasitor discharge ignition). Yakni alat untuk menyimpan muatan listrik, setelah itu dilepaskan ke koil. Pengertian itu juga bisa dibilang, kalau CDI sebagai otak dari pengapian motor.

“Perangkat ini lebih simpel dan menggantikan platina yang mekanismenya dianggap sulit dirawat dan gampang rewel,” ujar Tomy Huang, penggagas CDI racing lokal BRT.

Cara kerjanya? CDI intinya hanya pada kapasitor. Di mana pada sistem AC atau DC, tegangan tinggi diumpan masuk di kapasitor berkisar 300V dan tegangan ini akan dilepaskan ke koil yang punya perbandingan 1:1000. Sehingga tegangan keluaran koil menjadi 30.000 Volt.

“Nah pelepasan muatan itu, dipicu pulser. Saat pulser memberi isyarat pelepasan muatan tersebut yang biasa dibilang timing pengapian. Tiap motor punya panjang pulser berbeda, makanya gak bisa saling tukar CDI,” jelas pria berkacamata minus ini.

Tipe BRT Hyperband, jadi CDI racing untuk pemakaian motor standar. Pada motor standar pabrik, CDI yang dipakai sudah teruji. Pasalnya part itu memakai standardisasi JIS (Japan Internastional Standart). Namanya juga motor standar, maka setingan CDI-nya difokuskan pada garansi produk dan dampak terhadap lingkungan sekitar. Makanya CDI bawaan pabrik semuanya ada limiter.

Tentu pembatasan itu ada yang suka dan tidak. Nah buat yang menolak, biasanya cari solusi pakai CDI yang embel-embelnya racing. Dengan harapan performa dan akselerasi motor terdongkrak.

“Banyak yang beranggapan, bahwa CDI racing itu unlimiter. Zaman dulu pendapat itu mungkin saja benar, tapi saat ini kebanyakan produk seperti itu fokus ubahannya pada kurva pengapian dan limiternya dibuat lebih tinggi dari CDI standar. Jadi meski racing tetap ada limiternya,” ungkap Tomy.

Soal berapa banyak tenaga terdongkrak saat adopsi CDI racing, Tim OTOMOTIF pernah ngetes beberapa produk. Hasilnya, tenaga bisa terdongkrak 1-1,5 dk (pada RPM tertentu). Sedang akselerasi yang bisa digapai bisa mengalami kenaikan sampai 1,5 Nm.

Selain BRT juga ada Rextor, merek lokal yang maping pengapiannya bisa diprogram. Angka kenaikan tenaga dan akselerasi itu, tentu dalam kondisi motor standar. Dengan menambahkan koil racing, knalpot freeflow dan melakukan porting polish pada jalur in dan ex bahan bakar, maka angka kenaikannya akan lebih besar lagi.

Tak hanya itu. Kenaikan signifikan lainnya pada konsumsi bensin. Angka penghematan sampai 29% dengan mudah bisa diraih, hanya dengan mengganti perangkat itu. “Hal itu tentu efek dari proses pembakaran yang jadi lebih sempurna, setelah pakai CDI racing,” kata pria berambut lurus ini.

Saat ini bila dilihat dari aplikasinya, CDI racing dibagi jadi 2. Pertama yang timing pengapiannya sudah diubah namun bersifat tetap dan berikutnya adalah timing pengapiannya bisa diubah-ubah sesuai setingan mesin (programmable). CDI racing yang jenis pertama, bisa diaplikasikan pada motor harian. Sementara yang programmable, lebih efektif dipakai pada mesin motor untuk pemakaian khusus. Seperti pada motor-motor yang buat balapan road race.

Sumber : Otomotifnet.com


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: